Welcome to my blog
Tampilkan postingan dengan label APRESIASI PROSA FIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label APRESIASI PROSA FIKSI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

APF " NOVEL SUPERNOVA 1"

RATNA DWI LESTARI
122074002/PA 2012



Data Hasil Baca:
1.      Judul Novel                : Supernova (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh)
2.      Jumlah bagian            : 33 Keping
3.      Tokoh                         :
v  Ferre (Ksatria)                        : Pintar, Berpendidikan Tinggi, Tampan, sukses
v  Rana (Putri)                            : Pesimis, tidak punya pendirian.
v  Diva (Bintang Jatuh)               : Baik, model, kaya, cantik, cerdas
v  Ale (Sahabat Re)                     : setia kawan, konyol.
v  Gio (Teman Baik Diva)           : suka berpetualang, dan baik hati
v  Arwin (Suami Rana)               : setia, baik, ramah.
v  Sumargono (Pelanggan Diva): laki-laki hidung belang, tidak setia.
v  Dan masih banyak lagi tokoh figuran yang lain.
4.      Latar   :
§  LatarTempat  : Kantor, Rumah Rafael. Kamarmandi, Washington DC, Jakarta, Bandung
§  LatarWaktu    : Pagi hari, Malam Hari, sepuluh tahun yang lalu, ketika Rana masih kecil, dll
5.      Alur     :
Novel Supernova (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) mempunyai alur ganda atau berbingkai yaitu alur utama yang membuat cerita yang disebut alur bawahan. Alur utama dan alur bawahan tidak terpisah satu sama lain tetapi ada yang menyatukan. Dee sebagai pengarang menciptakan Ruben dan Dhimas, dan Ruben dan Dhimas juga menciptakan tokoh bernama Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Novel Supernova (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) juga memakai alur flash back yaitu pada bagian awal novel ketika Ruben dan Dhimas berhadap-hadapan membuat sebuah cerita dan mereka membayangkan ketika pertama kali bertemu. Selain itu ada unsur kebetulan dan unsur kejutan yang dihadirkan keduanya untuk menambah rasa ingin tahu pembaca. cerita diakhiri dengan Ruben dan Dhimas bahagia dengan hubungannya sebagai gay dan Supernova mendirikan sebuah situs tentang HIDUP.
Hal-Hal Menarik:
1.      Novel ini memiliki keunikan bukan hanya karena bisa memasukan unsur sains yang sangat kental tapi juga dapat memadukan unsur keromantisan yang juga mewarnai novel ini dengan sangat baik.
2.      Reuben termasuk geng anak beasiswa yang kuper dan cuma cocok bersosialisasi dengan buku. Sementara Dimas termasuk geng anak orang kaya, kalangan mahasiswa Indonesia berlebih harta. Ternyata mereka berdua homo dan menjadi pasangan kekasih.
3.      Rana yang hidupnya monoton.
4.      Ruben dan Dhimas yang bertekad untuk membuat suatu cerita masterpiece dalam rangka ulang tahun hari jadi mereka yang kesepuluh.
5.      Novel ini bertemakan cerita dalam cerita.
6.      Dalam ceritanya dikisahkan Ferre si eksekutif muda berumur 29 tahun yang merasakan kehampaan di balik kekayaan dan kesuksesannya. Ia adalah seorang yang rasional, kalkulatif, namun sesungguhnya berjiwa Pujangga. Akhirnya ia bertemu Rana dan jatuh cinta padanya. Rana merupakan seorang Wakil Pemimpin Redaksi sebuah majalah wanita berumur 28 tahun, telah memiliki suami, terikat pada lapisan-lapisan yang melingkupinya. Roman antara dua insan ini harus terbentur dengan tradisi, norma, dan nilai-nilai yang ada.
7.      Sikap cinta Arwin (cinta yang membebaskan) mampu meruntuhkan bangunan cinta yang kokoh antara Ferre dan Rana. Rana lebih memilih kembali kepada suami yang mencintainya dengan tulus. Pilihan ini merupakan penyelesaian yang baik, baik bagi Rana maupun bagi suaminya.
8.      Diva. Seorang model terkenal sekaligus pelacur papan atas yang hanya mau dibayar dengan dollar tapi mempunyai kecerdasan yang luar biasa.
9.      Ferre sempat ingin mengakhiri hidupnya, tetapi ia mengurungkan niatnya.
10.  Diva tiba-tiba muncul di hadapan Ferre agar lebih menikmati hidup.
11.  Ketika keduanya mulai jatuh cinta, Diva memutuskan untuk menjadi pecinta alam seperti teman baiknya, Gio.
12.  Diva ternyata supernova.
Hal yang Paling Menarik
Tokoh Rana yang merasa hidupnya kurang bebas, selalu terikat dengan aturan-aturan orang tuanya. Sifat Rana yang tidak tegas dan tidak mempunyai pendirian yang tetap. Mudah terpengaruh oleh orang lain, keadaan, maupun lingkungan.















Fanatisme :
Ketidak bebasan Rana
Novel karya Dewi “Dee” Lestari ini merupakan novel fiksi ilmiah populer yang memadukan ilmu sains dengan cerita cinta yang tidak cengeng. Novel ini sangat menarik untuk dibaca oleh orang yang menggemari sains, karena buku ini memang didominasi oleh bahasa sains yang mudah dimengerti bagi penyuka-nya. Tapi buku ini juga sangat menarik bagi orang yang awam terhadap sains dan ingin menikmati karya sastra. Orang yang awam terhadap sains juga bisa menikmati novel ini karena di setiap halaman yang dihiasi istilah sains yang sulit, selalu dilengkapi oleh footnote (catatan kaki).
Dalam Supernova ”Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ)”, menghadirkan konflik yang begitu banyak dan sebagian besar konfliknya adalah permasalahan cinta. Ada kisah cinta homo seksual antara Dimas dan Ruben, kisah cinta perselingkuhan antara Ferre dan Rana,  kisah cinta Rana dan Arwin, suaminya yang setia, dan kisah cinta diva, si pelacur jenius yang jatuh hati pada Ferre. Penokohan yang dilakukan Dewi “Dee” Lestari pun kuat untuk sebuah novel fiksi. Sifat dari karakter-nya pun dapat terasa dengan jelas.
Pada sebagian besar resepsi pembaca mengungkapkan ketidak mendalaman penggambaran tokoh karena Dee terfokus pada ide-ide yang dikemukakan sehingga deskripsi tokoh kabur. Pada dasarnya terdapat lima pernyataan umum yang dikemukakan pembaca. Pertama tentang tokoh terlalu banyak, tokoh membingungkan, penggambaran tokoh supernova menantang untuk mengetahui lebih jauh, penggambaran tokoh tidak sesuai dengan realitas dan yang terakhir yang merupakan pernyataan paling banyak mengenai kurang pendeskripsian tokoh secara mendalam. Pembaca merasa bingung karena tokoh terlalu banyak,tokoh tidak sesuai dengan realitas, pergulatan tokohnya tidak jelas.
Dalam tulisan ini saya akan mengapresiasikan tokoh Rana dengan menggunakan pendekatan Psikoanalitik, dimana pendekatan psikoanalitik merupakan pendekatan yang menggambarkan seorang tokoh dari kecil hingga dewasa. Tokoh Rana dalam novel ini digambarkan dengan singkat dan jelas pada bab ”Puteri”. (hlm. 48-56)
Pengarang menganalogikan tokoh Rana dengan sebuah tokoh Puteri dalam dongeng ”Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”. Seperti yang tertera pada kutipan yang diucapkan fere kepada Rana pada halaman 104:
Aku mencintaimu sepenuh hati, Putri.
Tak peduli lagi tepat atau tidak.
Tak peduli kau menyadari aku hilang atau tampak.
Tak peduli kau bahagia dengan diriku atau
Cuma dengan sel otak.
Selain itu juga di analogikan tokoh Ferre dengan ”Ksatria”, dan tokoh Diva ”sebagai ”bintang jatuhnya”.
Dalam bab ”Puteri”, dijelaskan kehidupan Rana mulai dari kecil hingga ia dewasa dan menikah dengan Arwin.  Rana sejak kecil merasa kurang mendapatkan kebebasan. Ia merasa hidupnya selalu diatur oleh orang tuanya. Mulai dari kurangnya waktu untuk bermain, hingga menentukan ke mana ia melanjutkan studinya setelah deawasa. Rana mengikuti anjuran orang tuanya untuk mengambil jurusan ilmu teknik industri yang sama sekali tidak diinginkannya. Dan setelah ia menyelesaikan studinya ternyata ia tetap merasa orang tuanya tetap terlalu menyetir hidupnya. Ia menjodohkan Rana dengan Arwin, pria santun dari keluarga ningrat berusia tujuh tahun lebih tua.
Meski ia mencoba menyakinkan dirinya bahwa Arwin adalah pria sempurna yang selalu menyayangiya sepenuh hati, namun ia tidak merasakan hal yang sama dengan Arwin. Hal itu sesusai dengan kutipan teks ketika Arwin yang mengajak Rana istrinya untuk melakukan hubungan suami istri, Rana malah berkata “jangan, jangan lakukan itu. Aku mohon” (hlm: 111)
Seiring berjalannya waktu, ia bertemu dengan Ferre, bisnisman sukses yang gila kerja hingga tak pernah memikirkan hubungan asmara. Mereka bertemu ketika Rana mewawancarai ferre untuk dijadikan profil pada media tempat kerja rana. Semenjak pertemuan itu, mereka jadi sering bertemu. Hingga timbul benih-benih kasih diantara keduanya.
Kehadiran Ferre membuat rana lupa dengan status pernikahannya. Ia sering melupakan kewajiban-kewjibannya sebagai suami Arwin. Baginya Ferre adalah labuhan hatinya. Sedangkan Arwin, meski statusnya telah resmi sebagai suaminya, namun tak sedikit pun perasaannya tercurah pada ferre. Hingga ketika ia berhubungan badan dengan Ferre pun, Rana merasa diperkosa oleh suaminya.
Hingga suatu waktu Rana dihadapkan pada kenyataan bahwa Ia harus memilih antara Ferre, pria yang menjanjikan kepuasan namun tidak memberikan rasa aman saat bersamanya atau Arwin, pria mapan yang membosankan namun dapat memberikan rasa aman saat bersama Rana. Saat Rana merasa yakin akan Ferre, ternyata Arwin datang dengan sebongkah harapan bahwa ia akan membahagiakan Rana kelak. Rana pun goyah dan memutuskan hubungannya dengan Ferre . seperti pada kutipan surat Rana untuk Fere (hlm. 233-234)
Tidak ada yang kusesali. Aku harap kamu juga demikian.
Tidak ada cara yang mudah untuk mengatakan ini semua.
Aku yakin kamu mengerti. Dan, tidak ada yang aku cintai lebih
dalam selain perasaan indah yang pernah kita miliki
(dan, semoga masih akan terus kita miliki). Tapi, aku bukan Putri yang kamu cari.
Disatu titik, perasaan indah itu telah mengkristal,
dan aku akan menyimpannya. Selamanya.
Kamu adalah yang teristimewa, Ferre. Kamu telah mem-
Beri aku kekuatan untuk mendobrak belenggu itu. Sekarang
Aku bebas. Tapi, tidak berarti kita harus berjalan bersama.
Izinkan aku kembali berjalan di setapak kecilku.
  Rana
Dalam novel ini, tokoh Rana digambarkan sebagi tokoh yang mempunyai watak mendambakan seorang tokoh yang diidamkan. Pendambaan terhadap seorang figur itulah yang membuat ia terlena sehingga ia lupa akan kondisi dan situasi sekitarnya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah figur yang didambakannya, dan ingin selalu berada didekatnya. Terlebih lagi, tokoh Rana dalam novel ini mengalami pengekangan sejak dari kecil. Sehingga ketika ia telah menemukan seorang figur yang diyakini akan mampu membuatnya bahagia, ia rela melakukan apapun untuk selalu berdampingan dengan figur yang didambanya, meski pun itu ia harus berkhiananat pada pasangan hidupnya yang telah resmi.
Dalam novel Supernova (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) ini tokoh Rana diceritakan dengan mempunyai watak yang fanatik, yaitu Dibayangi dengan kegelisahan dan rasa bersalah, karena lingkungannya sangat tidak mendukung fanatik figur yang ada dalam diri mereka, selain itu lingkungan yang tidak mendukung itu adalah lingkungan keluarga mereka sendiri, terutama orang tua mereka, yang memaksa mereka untuk menikah dengan pilihan orang tua, sehingga watak fanatik mereka terpendam. Dan akibat dari watak yang seperti itu juga sama dampaknya bagi tokoh tersebut.


Read Comments

Rabu, 05 Juni 2013

Langkah Awal Menjadi Apresiator Karya Prosa Fiksi yang Baik

Langkah Awal Menjadi Apresiator Karya Prosa Fiksi yang Baik
Oleh : Rochma Wahyu Sri W.L
122074031/PA 12

Kata sastra atau kesastraan sudah tidak asing lagi dalam dunia Bahasa Indonesia. Kalau mendengar kata sastra pasti dalam bayangan anda sudah terbesit kalau sastra ialah pelajaran yang sulit. Namun sebenarnya sastra tidaklah hal yang sulit untuuk dipelajari, bahkan sebaliknya, dunia sastra sangat menyenangkan. Dunia kesastraan dibagi menjadi 3 genre yaitu puisi, prosa fiksi dan drama. Masing-masing genre memiliki ciri khas tersendiri. Dalam artikel ini penulis akan membicarakan mengenai apresiasi prosa fiksi yaitu bagaimana cara mengapresiasi yang baik, ciri khas dari prosa fiksi dan bekal awal untuk menjadi seorang apresiator yang baik.
Prosa fiksi berasal dari bahasa inggris fiction yang berarti khayal. Sehingga prosa fiksi sering disebut prosa naratif yang bersifat imajiner yang ceritannya hanya rekaan tapi ada juga yang bersifat nyata. Meskipun hanya bersifat rekaan, namun prosa fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan sesamanya. Karena memang cerita rekaan adalah cerita olahan pengarang berdasaran pandangan, tafsiran, serta penilaian tentang peristiwa yang pernah terjadi atau peristiwa yang berlangsung dalam khayalan pengarang saja.
Prosa fiksi dalam dunia sastra memiliki ciri khas yang membedakan dari puisi dan drama. Prosa fiksi dibagi menjadi 2 jenis yaitu novel dan cerpen. Kalau dalam puisi hanya menonjolkan gaya bahasa dan majas dalam pembuatannya serta darama yang hanya menonjolkan alur cerita, isi cerita dan karakter tokoh dalam drama. Namun untuk prosa fiksi dalam pembuatannya harus memperhatikan beberapa aspek, tidak hanya dalam segi bahasa yang diambil harus benar-benar diperhatikan oleh pengarang, namun pengarang juga harus mampu mengembangkan imajinasi dengan luas. Sehingga pembaca prosa fiksi tidak hanya menghubungkan cerita prosa fiksi dengan dunia nyata Hal itu disebabkan dunia fiksi yang imajinatif dengan dunia nyata masing-masing memiliki sistem hukumnya sendiri. Jadi pengarang prosa fiksi tidak hanya mampu bercerita dengan baik namun mampu mengolah gaya bahasa dengan baik pula dengan demikian kesan imajinatif lebih mudah menonjol. Hal ini dapat menjadi jalan untuk meningkatkan minat dan apresiasi mereka terhadap karya sastra, dalam hal ini prosa-fiksi.
Effendi (1973:33) mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan pikiran yang baik terhadap karya sastra. Dari pendapat itu juga disimpulkan bahwa kegiatan apresiasi itu sebagai bagian dari hidupnya, sebagai suatu kebutuhan yang mampu memuaskan rohaniahnya.
Membaca dan memahami, menikmati, menilai sebuah karya sastra bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap pembaca karya sastra baik modern ataupun klasik, pasti pernah mengalami kesulitan, merasa seakan-akan tidak memahami apa yang dikatakan ataupun dimaksudkan oleh pengarang.  Proses membaca yaitu memberi makna pada sebuah teks sastra yang kita pilih adalah proses yang memerlukan pengetahuan dan pemahaman tentang unsur karya sastra. Penumbuhan sikap serius dalam membaca cipta sastra itu terjadi karena sastra bagaimanapun lahir dari daya kontemplasi batin pengarang sehingga untuk memahaminya juga membutuhkan pemikiran daya kontemplatif pembacanya. Dengan demikian sastra sebagai bagian dari karya seni jika dibaca tidak cukup dipahami lewat analisis kebahasannya tetapi semua yang terkait dengan teks sastra. Karena memang untuk memahami karya sastra prosa fiksi diperlukan pembacaan dan penghayatan yang intensif, kemampuan menganalisis unsur-unsur karya sastra dan menginterprestasikannya secara logis dan kreatif. Untuk menjadi seorang apresiator yang baik dibutuhkan pula bekal yang baik pula.
Bekal awal untuk menjadi seorang apresiator itu ada bermacam-macam.
1.      Bekal Pengetahuan
2.      Bekal Pengalaman
·         Bekal pengalaman hidup
·         Pengalaman menggeluti atau bergaul dengan karya sastra
3.      Bekal kesiapan diri yang baik pula
Dari beberapa bekal awal tersebut, bekal yang paling efektif adalah bekal pengetahuan. Karena bekal pengetahuan adalah bekal yang sangat dasar dan sangat penting. Dengan adanya bekal pengetahuan yang luas maka seorang apresiator mampu mengapresiasi prosa fiksi secara mendalam sebab mereka bisa mengetehui karakteristik sastra dan juga biografi pengarang sastra tersebut. Sehingga apresiator lebih mudah untuk mengapresiasi karya sastra. Bekal pengetahuan juga mencakup pada bekal pengalaman, karena seorang apresiator yang memiliki pengetahuan tentang sastra maka pasti dia memiliki banyak pengalaman menggeluti tentang sastra, baik pengalaman mereka ketika membaca prosa fiksi ataupun yang lainnya.
Agar bisa memudahkan apresiator dalam mengapresiasi karya sastra, bisa dilakukan dengan memakai pendekatan-pendekatan dalam apresiasi prosa fiksi. Pendekatan prosa fiksi secara garis besar dibagi menjadi 4 yaitu :
1.      Pendekatan Objektif
Pendekatan obyektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra. Dengan pendekatan obyektif ini penelaah melihat karya sastra sebagai produk manusia atau artifak. Karya sastra, dalam hal ini, merupakan suatu karya yang otonom, yang dipisahkan dari hal-hal di luar karya itu sendiri. Dengan demikian telaah karya sastra dengan pendekatan obyektif beranjak dari aspek-aspek atau unsur-unsur yang langsung membangun karya sastra.
2.      Pendekatan Mimesis
Pendekatan mimetis adalah pendekatan yang mendasarkan pada hubungan karya sastra dengan universe (semesta) atau lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi lahirnya karya sastra itu. 
3.      Pendekatan Genetis
Pendekatan genetis adalah pendekatan yang memandang prosa fiksi sebagai hasil cipta seorang penulis sastra atau pengarang. Dalam hal ini seorang apresiator harus mampu mengaitkannya secara genetis dengan ihwal penulisnya sendiri. Misalnya menegetahui tentang pendidikannya, lingkungan keluarga, kebiaasaannya, dan cara pandang hidupnya.
4.      Pendekatan pragmatik
Pendekatan Pragmatik ialah pendekatan yang memandang karya prosa fiksi tidak semata-mata untuk menghibur para pembacanya namun juga bermanfaat apabila dihubungkan dengan kehidupan di masyarakat.
Sebenarnya masih banyak pula pendekatan-pendekatan lainnya, namun ke 4 pendekatan tadi adalah pendekatan pokok. Untuk bisa mendapatkan pemahaman yang luas dan utuh dalam mengapresiasi, maka seorang apresiator harus menggunakan keempat pendekatan tadi. Karena pendekatan tersebut saling mngisi dan melengkapi. Kalau ditanya seberapa fungsional pendekatan dalam berapresiasi itu sangat fungsional sekali. Bisa memudahkan apresiator dalam melakukan proses dialog dengan karya prosa fiksi sesuai dengan tahapan-tahapan yang dikehendaki sang apresiator.
Jadi, untuk menjadi seorang apresiator yang baik adalah :
1.       Langkah pertama adalah kita harus memiliki bekal awal untuk menjadi seorang apresiator. Bekal yang dibutuhkan ialah pengetahuan. Untuk bisa memiliki pengetahuan yang luas dengan karya prosa fiksi maka kita harus bersahabat dengan prosa fiksi, gemar membaca karya-karya prosa fiksi. Sehingga dengan banyaknya pengalaman membaca karya prosa fiksi maka kita bisa memahami lebih jauh tentang karya-karya prosa fiksi.
2.      Langkah kedua, dalam mengapresiasi prosa fiksi kita harus menggunakan pendekatan prosa fiksi. Karena sangat fungsional sekalii dalam membantu kita untuk lebih mudah berdialog dengan karya prosa fiksi. Sehingga apresiasi yang kita buat lebih jelas maksudnya dan bermanfaat bagi pembaca.

sumber :
Najid,Moh.2009.Mengenal Apresiasi Prosa Fiksi.Subaya.University Press.


Read Comments

APF "NOVEL THESEUS"

Apresiasi Prosa Fiksi

Langkah-langkah apresiasi :
1.    Membaca prosa fiksi novel “THESEUS” karya Andre Gide.
2.    Data hasil baca :
a)      Jumlah halaman         : 64 halaman
b)     Jumlah tokoh              : 15 orang
1.      Aku (Theseus), putra raja Aegeus : penurut, pelupa, perkasa, acuh tak acuh, berkemauan tinggi, pemberani, suka tantangan, tak peduli dengan urusan yang telah selesai di masa lalu.
2.      Hippolytus, putra Theseus : acuh tak acuh seperti ayahnya, namun memiliki sifat rendah hati dan sopan.
3.      Aegeus, raja Attika : seorang laki-laki pemurah yang terhormat, pemberi nasehat dan semangat yang luar biasa, selalu menepati janji.
4.      Para penyamun : selalu meresahkan masyarakat Atena dengan cara membunuh, merampok, bengis.
5.      Pirithous, sahabat Theseus : memiliki pemikiran yang cerdik daripada Theseus.
6.      Minos, raja Kreta : baik hati meski awalnya berlagak sombong.
7.      Minotaur, makhluk aneh yang dilahirkan oleh istri Minos yang pernah punya hubungan dengan sapi : tidak berperikemanusiaan.
8.      Permaisuri (Pasiphae), istri raja Minos : penyayang meski gagal menjaga kehormatan dirinya.
9.      Rhadamanthus, saudara raja Minos : menjadi hakim yang adil di Daerah Orang-orang Mati.
10.  Daedalus, teman raja Minos : berperawakan tinggi, haus akan ilmu, dan pintar.
11.  Ariadne, puteri sulung raja Minos : baik, teguh pada pendirian.
12.  Phaedra, puteri kedua raja Minos : baik, mewarisi perangai/sifat buruk ibunya.
13.  Glaukus, putera bungsu raja Minos : sering kecewa.
14.  Ikarus, anak Daedalus : pintar namun hilang akal semenjak keluar dari Labyrinth.
15.  Oedipus, raja Thebes sekaligus sahabat Theseus : perhatian.
c)      Alur                             : alur mundur
d)     Sudut pandang           : tokoh pertama pelaku utama, yang ditandai dengan “Aku”.
e)      Latar  :
                    i.               Latar tempat : hutan, taman, pantai, laut, sekitar istana, Attika, atas kapal, di desa, di kota-kota, di pelabuhan Ammsos, di ibu kota pulau Kreta (Knossus), kamar istana, di bawah ruangan kerajaan, ruang makan, kamar mandi, sebuah arena besar dalam bentuk setengah lingkaran terbuka di dekat laut, di amphitheatre, rumah Daedalus, labyrinth, danau Moris, pulau Naxos, Attena.
                       ii.          Latar waktu : suatu hari, pagi hari, bulan Maret, malam hari, sore keesokan harinya, musim semi, siang hari.
                     iii.          Latar suasana : berkabung, meriah, kekecewaan, kesal, benci, tertekan, tegang, mencekam, iri, cemburu, bahagia, acuh dan sedih.

3.    Hal-hal Menarik
Bagian 1 :   Untuk lebih mengenal dirinya, Aku (Theseus) akan menceritakan kisah hidupnya kepada sang anak (Hippolytus) meski anaknya telah mati. Salah satu kisah tersebut adalah Theseus ingin melakukan apa yang dia mau, tetapi dia tidak bisa melakukan dengan bebas karena Theseus merupakan putra raja. Sehingga dia harus menuruti perintah ayahnya, Aegeus agar bisa memenuhi syarat menduduki takhta.
Bagian 2 :   Dalam permulaan kisahnya, dia telah menghadapi rintangan besar untuk menuju Atena, seperti menaklukkan musuh dan melewati jalan yang penuh bahaya. Namun mengenai soal wanita, Theseus menganggap bahwa mereka itu sumber kekuatan sekaligus kelemahannya.
Bagian 3 :   Awalnya, Theseus ingin mengalahkan Minotaur demi menyelamatkan rakyat Yunani, dengan cara menyamar sebagai korban. Karena kebaikan puteri Ariadne, Theseus menceritakan maksud kedatangannya itu. Dan tidak disangka atas kejujurannya, dia disambut baik dan diundang ke pesta yang diselenggarakan oleh raja Minos.
Bagian 4 :   Setelah pesta usai, raja Minos menguji Theseus untuk memastikan bahwa Theseus benar-benar keturunan dewa Poseidon. Akan tetapi, Theseus tidak menerima usulan raja melainkan membuat usulan sendiri dengan cara menyelam dan mengambil sesuatu dari dasar laut. Dengan cerdiknya, dia mengambil tiga permata yang telah disediakan. Kemudian kembali ke pantai untuk memberikannya kepada permaisuri dan kedua puteri raja.
Bagian 5 :   Permaisuri meminta kepada Theseus agar Theseus tidak membunuh anaknya, Minotaur.
Bagian 6 :   Ariadne memberikan saran kepada Theseus untuk mengetahui cara membunuh Minotaur. Namun Theseus harus menuruti kata-kata Ariadne agar dia tidak celaka. Padahal Theseus sendiri tidak ingin berhutang budi kepada siapapun melainkan kepada dirinya sendiri.
Bagian 7 :   Daedalus memberi saran kepada Theseus agar lebih berhati-hati selama berada di dalam Labyrinth nanti. Karena di Labyrinth itu terdapat suatu asap yang membuat seseorang enggan meninggalkan Labyrinth.
Bagian 8 :   Daedalus memberikan benang kepada Theseus dan menghubungkannya kepada Ariadne selama Theseus berada di dalam Labyrinth agar dia bisa kembali dan menemukan jalan keluar setelah bertarung dengan Minotaur.
Bagian 9 :   Theseus telah berhasil memasuki labyrinth begitu juga sebaliknya dan bisa menaklukkan Minotaur dengan mudah. Apalagi dia masih bisa menggunakan hati nurani dan kesadarannya untuk tidak meninggalkan orang-orang termasuk sahabatnya, Pirithous yang masih berada di dalam labyrinth untuk keluar.
Bagian 10 : Meskipun Ariadnne menyukai Theseus, namun sebenarnya Theseus menyukai adik Ariadne, Phaedra dan ingin membawanya kembali ke Yunani. Karena tidak tahu caranya, Theseus menyampaikan hasratnya kepada Pirithous. Atas pertolongan/ tipu muslihat sahabatnya itu, maka Theseus berhasil membawa Phaedra menuju Yunani.
Bagian 11 : Setelah kembali ke Yunani, Theseus dinobatkan menjadi raja Atena. Untuk menguasai wilayah-wailayah kecil yang sedang terjadi peperangan menjadi damai. Theseus terjun langsung/berbaur dengan masyarakat dan berusaha menyatukannya meski dengan tindak kekerasan sekalipun.
Bagian 12 : Tidak disangka, Phaedra menghianati Theseus yang lebih mencintai Hippolytus, anak Theseus. Karena tidak bisa mengendalikan kehendaknya, Theseus membunuh Hippolytus. Begitu juga dengan Phaedra, dia mati bunuh diri. Akhirnya, Theseus yang telah sebatang kara menerima kedatangan Oidipus, sahabatnya dari Thebes untuk menghabiskan masa tua mereka bersama-sama.


Hal-hal lebih menarik
a.       Bagian 1
b.      Bagian 2
c.       Bagian 3
d.      Bagian 6
e.       Bagian 9
f.       Bagian 11
g.      Bagian 12
Hal-hal paling menarik
a.       Bagian 2
b.      Bagian 3
c.       Bagian 6
d.      Bagian 9
e.       Bagian 11

Kehidupan dan Kepribadian Sang Raja Atena
Sinopsis : Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup tokoh utamanya yaitu Theseus yang merupakan seorang putra raja. Dia tetap menceritakan kisahnya kepada sang anak meski telah meninggal. Dikisahkan perjalanan hidupnya semenjak kecil hingga ia meninggal. Namun dalam perjalanan hidupnya itu, Theseus mengalami tahapan perkembangan kepribadian yang tak sempurna (menyimpang) dalam masa kecilnya. Theseus tidak mampu melewati fase perkembangan kepribadian masa kanak-kanaknya (masa infantile) seperti manusia normal lainnya.
              Hal ini bermula dari didikan ayahnya bernama Aegeus, yang begitu menanamkan  jiwa kepemimpinan serta kewibawaan agar bisa digunakan untuk menjadi seorang pewaris kedudukan ayahnya, Raja Attika. Padahal dalam diri Theseus terjadi sebuah kontradiktif, yaitu di samping ia mengagumi kegagahan ayahnya sebagai seorang raja serta sifat pemurah, terhormat, dan benar-benar sebagai raja yang berwatak, tanpa disadari ia telah menaruh kebencian terhadap ayahnya itu, karena ayahnyalah yang melarang ia bersahabat dengan alam. Padahal dengan begitu dekat dengan alam, ia mampu menjamah benda-benda alam seperti halnya buah-buahan, permukaan batu yang licin, goyangan rumput, serta bulu kuda dan anjing yang menggambarkan atau mengandung satu sifat umum yaitu kelembutan wanita (halaman 6). Yang sebenarnya hal itu begitu ia dambakan setelah sekian lama ia tak merasakan belaian lembut seorang ibu. Didikan keras serta larangan ayahnya merupakan vonis mati bagi imaji erotiknya.
              Kemudian masalah tersebut terus berlanjut saat berada di pulau Kreta, bertemu dengan keluarga kerajaan, bertarung dengan Minotaur di labyrinth, sampai menghadapi kematian orang terdekatnya, yaitu sang ayah (Aegeus), anak (Hippolytus), istri (Phaedra), dan sahabatnya (Oedipus).
              Dari analisis ini, dapat dibuktikan bahwa novel Theseus mengandung pendekatan psikologis. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang berusaha memahami prosa fiksi sebagai kreasi yang tidak dapat dilepaskan dari aspek psikologis, terutama pengarang, pembaca, dan lain-lain. Selain itu, dalam pendekatan ini dapat dipakai psikoanalisis untuk melihat karakter-karakter yang ada dalam novel. Pembaca dapat mengetahui jika novel ini lebih dominan menceritakan kisah hidup sang  tokoh, dari awal hingga akhir.  Sehingga, berikut akan dipaparkan mengenai karakter tokoh utama yang menjadi fokus pembicaraan.
a.       Karakter pemberani dalam diri Theseus ini tampak saat ayahnya menyarankan dirinya untuk menempuh jalan laut yang lebih aman, namun bukanlah Thesesus jika tak menentang bahaya. Theseus dengan keberaniannya memilih jalan darat dengan segala lika-likunya. Baginya, hal itu merupakan kesempatan dirinya dalam memperlihatkan keberaniannya. Hingga dalam perjalanannya ia mampu mengalahkan beberapa penjahat yang mencoba menghadang perjalanannya.
b.      Karakter penuh percaya diri dalam diri Theseus ini tampak saat ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa tangan dan hatinya begitu kuat tatkala ia berhasil mengalahkan perampok-perampok yang baginya sangat berbahaya.
c.       Karakter penuh kekuatan dalam diri Theseus tampak saat ia menuruti perintah ayahnya dalam mengangkat batu-batuan besar untuk mencari senjata di bawah tanah (hlm. 6).
d.      Karakter penuh pengabdian kepada manusia dalam diri Theseus tampak saat ia telah menunaikan pengabdiannya dalam membersihkan bumi dari penjahat-penjahat, perampok-perampok serta binatang buas (halaman 9).
e.       Karakter selalu ingin serba sempurna dalam segala usaha dalam diri Theseus ini sebenarnya adalah sifat yang ia warisi dari kakeknya Pittheus. Kata-kata kakeknya seolah telah terpatri dalam jiwanya bahwa tidak cukup manusia itu akan ada, juga tidak cukup akan sudah ada, tapi ia harus mewarisi dan bekerja, sehingga ia merasa bahwa adanya itu belum selesai, dan ia masih tetap sambung menyambung dan perlu disempurnakan (halaman 11).
f.       Karakter penuh ambisi dan perkasa dalam diri Theseus merupakan sifat yang ia warisi dari Herkules, anak bibinya.
g.      Karakter cerdas dalam diri Theseus merupakan sifat yang ia warisi dari kakek dan ayahnya Pittheus dan Aegeus (halaman 11).
h.      Karakter tidak bertanggungjawab dalam diri Theseus tampak saat ia dalam perjalannya menuju Atena, ia bertemu dengan sosok Pyregone yang tinggi dan lemah gemulai lalu Theseus memberinya anak yang bernama Menalip. Namun, Pyregone dan Menalip begitu saja ditinggalkan oleh Theseus supaya ia tak terlambat dalam perjalannya (halaman 12).
i.        Karakter curang dalam diri Theseus tampak saat ia diuji kesaktiannya layaknya dewa Poseidon oleh Raja Minos. Ia mencurangi ujian yang diberikan Raja Minos (halaman  19-20).
j.        Karakter tidak konsisten dalam diri Theseus yang menurutnya sendiri adalah warisan dari Dewa Poseidon yakni perangainya yang tak pernah tetap dalam segala hal. Hal itu juga ditunjukkan Theseus ketika ia tak dapat tetap mencintai seorang wanita.
k.      Karakter tak ingin disaingi ataupun dikalahkan oleh orang lain dalam diri theseus tampak ketika kebenciannya terhadap ayahnya karena ayahnya dianggap telah menyainginya merampas “sosok ibu” dari dirinya lewat larangan bersahabat dengan alam yang secara tidak langsung memutus imaji erotiknya. Hal lain juga tampak saat bayang-bayang ayahnya muncul pada diri anaknya, Hypollitus serta tampak juga saat Theseus merasa disaingi dan dikalahkan oleh sahabatnya sendiri, Oedipus. Ketika Oedipus berada di bumi pertiwinya, Attika, Oedipus yang juga seorang raja Thebes yang dianggapnya akan memiliki Attika juga.
l.        Karakter pengayom pada diri Theseus tampak ketika ia berucap bahwa yang selalu ia jaga adalah kepentingan umum, menjaga keseimbangan dan ketertiban (hlm. 53).
m.    Karakter penakluk pada diri Theseus tampak ketika ia berhasil menaklukkan binatang-binatang buas, perampok-perampok dan penjahat-penjahat.
n.      Karakter angkuh pada dirinya Theseus tampak saat ia mengakuinya sendiri. Berikut kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Theseus memiliki sifat angkuh.
“Kupersembahkan kepada dewa-dewa sebagai tebusan atas apa yang telah kucapai dengan berhasil di samping sifat-sifat angkuh yang kumiliki.”

o.      Karakter teguh hati, tampak ragu-ragu dan pantang mundur tampak saat Daedalus pembuat Labyrinth berkata pada Theseus bahwa Daedalus menyukai Theseus karena keteguhan hati menghadapi sesuatu tujuan tanpa ragu-ragu dan pantang mundur.

              Setelah mengetahui karakter tersebut, diharapkan para pembaca dapat meniru sifat-sifat baik dan menjauhi sifat-sifat buruk dari sang tokoh. Kemudian dapat diaplikasikan untuk diri sendiri maupun orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bertujuan agar tercipta sosok yang berjiwa besar dan dapat memotivasi orang lain untuk berbuat kebaikan demi negaranya.


Read Comments